Agen Biologi Taklukkan Penyakit Radang Sendi

Dear Ankylosingers,

Ada artikel yang cukup informatif dan bisa menambah wawasan kita tentang penggunaan agen biologi terhadap penyakit radang sendi yaitu RA dan AS. Artikel ini ditulis oleh Dr. Marjuadi Adiwirawan, Sp.PD-KR dan telah ditampilkan di majalah Farmacia edisi September 2006.

Berikut link dari artikel tersebut :

http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=299

Artikel selengkapnya :

SIMPOSIA – Edisi September 2006 (Vol.6 No.2)

Temuan agen biologi untuk mengatasi RA menawarkan hasil yang lebih memuaskan dibandingkan terapi sebelumnya.

Manajemen pada penyakit radang sendi seperti Rheumatoid Arthritis (RA) dan Ankylosing Spondylitis (AS), secara umum tidak memiliki perbedaan baik pada pasien usia muda maupun usia lanjut. Perbedaan hanya didasarkan pada kondisi individual pasien. “Hal terpenting yang menentukan dalam manajemen RA dan AS adalah diagnosa yang cepat dan tepat, berdasarkan riwayat kesehatan dan pemeriksaan klinis yang dilakukan segera,” ujar Dr. Jan Dequeker dari Universitas Leuven, Belgia dalam Colegium Internatioale Geronto Pharmacologicum Congress 2006 di Hotel Borobudur 11-13 Agustus lalu.

Penyakit RA ditandai dengan terjadi peradangan pada sendi, sendi menjadi lemas, kelelahan, kaku sendi yang kerap menyerang di pagi hari. Hal lain yang kerap dijumpai dalam RA adalah kerusakan permanen pada tendon, ligamen, tulang rawan yang mengakibatkan keterbatasan bergerak. Peradangan dan deformasi fisik nyata terlihat pada tangan dan kaki. Meski hal itu dapat pula mengenai lutut, pingang dan bahu.

Prof. Handono Kalim SpPD-KR dari Universitas Brawijaya, Malang, menjelaskan peran sel T menjadi penting dalam pengenalan awal terjadinya RA. Inflamasi kronik itu sendiri terjadi secara berulang dengan kontribusi makrofag dan fibroblast secara independen dalam sel T. Teori ini berdasarkan hubungan antara ketiadaan aktivasi fenotip sel T pada RA kronis dan pengaruh besar dari aktivasi makrofag dan fenotip fibroblast.

Perbedaan yang nyata tampak pada pencitraan radiologi antara sendi normal dan sendi yang terkena RA. Cellular component in RA Joint memperlihatkan terdapat celah ruang antara dua tulang berupa lapisan synovia. Pada keadaan normal  lapisan synovia berfungsi memberi nutrisi pada cartilage yang dilalui oleh pembuluh darah.  Di saat yang bersamaan, synovia juga mensintesa sel dan menghasilkan zat untuk lubrikasi sendi yakni asam hyaluronat yang berfungsi sebagai kolagen dan fibroblast yang menegakkan struktur rangka synovial interstitum.

Sementara pada kasus RA, di mana membran synovial terinflamasi (pannus ; synovia hipertrofi) terdapat  dua tipe sel, mayor dan minor. Pada sel mayor melibatkan limfosit T dan makrofag. Sementara pada sel minor, melibatkan fibroblast, sel plasma dan endothel. Hal ini membuat produski sintesa sel pada lapisan synovia menjadi lebih banyak. Akibatnya synovia mengikis tulang dan cartilage dengan membentuk jaringan serupa tumor.

“TNF alpha  memainkan peran sentral dalam imunologi molekular dan selular selama proses pro inflamasi cytokine oleh makrofag dan sel inflamasi lain. Serta adhesi molekul yang meningkatkan inflitrasi sel di sekitar jaringan sendi dengan manifestasi peradangan synovial dan erosi tulang,” jelas Dr. Marjuadi Adiwirawan, SpPD-KR dari Klinik Medika Reuma, Jakarta.

Terapi untuk RA

Manajemen terhadap RA sudah ada sejak beberapa tahun silam mulai dari penggunaan tanaman herbal, hingga isolasi zat kimia seperti colchicine dan aspirin di masa lalu, hingga berkembang dengan penggunaan kortikosteroid dan sitostatika.  Penggunaan agen lain yang dikenal kemudian adalah Disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs) dan agen biologi.

Peralihan  dari DMARD kepada agen biologi didasarkan pada keuntungan yang lebih banyak dibandingkan pemakaian terapi sebelumnya. Fokus pada semua jenis penyakit inflamasi kronis seperti RA, AS, Crohn’s Disease dan psoriasis, serta pengalaman penggunaan terapi jangka panjang dengan DMARD ternyata tidak menunjukkan remisi yang berarti.

Kehadiran TNF alpha juga meningkatkan angiogenesis dan reaksi fase akut yang menghasilkan kenaikan tingkat sedimentasi darah, C. reactive protein (CRP), sintesa metalloproteinase dan stimulasi aktivitas osteoclast. Farmakologi dengan agen biologi diarahkan pada mekanisme intervensi sitokin dengan blokade TNF alpha, modulasi sel T, dengan penurunan sensitasi pada auto antigen dan penghambatan angiogenesis, chemokin.

Kerja rinci dari agen biologi adalah dengan mengganggu secara mendalam sistem biologi secara alami. Gangguan biologi tersebut bukan berarti kerusakan melainkan respon terapi. Namun akibat intervensi pada sistem biologi terkadang membawa kerugian berupa risiko munculnya penyakit imunitas lain seperti inflamasi, sepsis hingga kematian. Masalah yang lebih besar juga berpeluang pada pasien lanjut usia, pasien TBC kambuhan, dan pasien anti sel T (terapi CD4).

Secara ringkas, Handono menyimpulkan, penyakit RA merupakain penyakit yang profresif, namun dengan diagnosa cepat yang ditindaklanjuti dengan medikasi tepat membawa hasil yang berbeda serta bermakna. Ia menegaskan, kontribusi TNF alpha menjadi tanda dalam patogenesis RA yang merepresentasikan ketidakseimbangan pada sitokin yang terlihat dengan aktivasi faktor-faktor pro inflamasi antara lain dengan aktivasi TNF alpha, Interleukin 1, 2 , 6, dan IFN gamma.

Ankylosing Spondylitis

Sama halnya dengan RA penyakit anklosing spondylitis (AS) juga merupakan penyakit yang ditandai dengan hadirnya inflmasi kronis pada sendi. RA ditemukan pada anggota gerak pada tangan dan kaki (perifer) sementara AS berfokus pada sendi axial mulai dari sacroiliacal dan kerap terjadi pada sendi dengan unilateral luas seperti pada lutut dan siku.

Meski tampilan klinis RA dan AS berbeda namun keduanya disebabkan oleh inflamasi pada synovial dan destruksi akhir pada jaringan tulang dan sendi yang berlekatan selama peradangan berlangsung. Pemahaman terhadap mekanisme proses inflamasi mengantar pada pengembangan terapi target biologi pada RA spondyloarthopathies (SpA) termasuk AS, inflammatoir bowel disease (IBD), dan psoariatic arthritis.

Terapi yang sama diberlakukan pada manajemen AS dengan melihat patogenesisnya yang sama dengan RA, baik dengan penggunaan NSAID, DMARDs hingga aplikasi agen biologi.

Efikasi penggunaan agen biologi tampak dalam satu percobaan yang mengevaluasi penggunaan etanercept kepada 20 pasien radang sendi. Pasien dengan RA sebanyak 8 orang, penyandang AS sebanyak 5 orang, pengidap juvenile chronic art sebanyak 2 orang, early RApada 4 orang, dan psoriasis arthritis 1 orang. Studi ini berlangsung sejak Oktober 2005 hingga Juni 2006.

“Lebih dari 90 % pasien merasa perbaikan dalam hal nyeri, kaku dan peradangan. Perbaikan juga tampak pada status fungsional seperti mobilitas sendi dan kemampuan berjalan setelah dua kali pemberian injeksi. Namun hanya 25 % pasien yang melanjutkan terapi. Sisanya memilih menghentikan terapi dengan alasan beragam di antaranya karena keluhan harga obat (30%), merasa membaik usai 4 kali injeksi (40 %) dan sebanyak 15 % karena alasan lain,” ungkap Dr. Mardjuadi Adiwirawan.

Terdapat satu pasien yang sebenarnya merespon pemberian etanercept dengan baik namun harus berhenti karena efek samping berupa rhinitis dan demam yang dialaminya. Tidak tampak efek samping yang serius lainnya dijumpai usai pemakaian etanercept, seperti timbulnya infeksi TBC.

Hasil serupa tampak dalam studi TEMPO (Trial of Etanercept and Methotrexate with Radiographic Patient Outcome) pada 682 pasien RA selama 52 pekan. Dari 522 pasien yang merampungkan studi, kemudian dilihat yang mengalami perbaikan sesuai skor HAQ (health assessment question). Hasilnya, 0,65 pada kelompok MTX, 0,70 pada kelompok etanercept dan 1,0 pada kelompok kombinasi MTX dan etanercept. Hasil studi di sejumlah Negara Eropa dan Australia ini menyebutkan kemajuan tertinggi tercapai pada kelompok kombinasi MTX dengan etanercept pada perbaikan fungsi, QoL (quality of life), dan kepuasan dibandingkan pemberian monoterapi.

(Ani)

Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi September 2006 , Halaman: 70