Lembar Informasi Rituximab

Rituximab

Rituximab adalah pengobatan dengan mekanisme kerja baru untuk kanker kelenjar getah bening (Non Hodgkin Limfoma)

Apakah Rituximab itu ?

  • Rituximab adalah obat anti kanker dengan ‘target khusus’ yang telah disetujui untuk pengobatan Non Hodgkin Limfoma (NHL) indolen yang tidak memberikan respon pada terapi standar yang selama ini ada atau yang sukar disembuhkan, dan dalam kombinasi dengan kemoterapi untuk NHL agresif.
  • Rituximab pertama kali disetujui Food and Drug Administration (FDA) USA pada November 1997 dan telah dipasarkan di USA, Kanada dan Jepang dengan nama Rituxan. Di Indonesia obat ini telah mendapatkan ijin pemasaran pada bulan Juli 2004 dengan indikasi untuk Limfoma tipe agresif dan indolen dengan nama dagang MabThera®.
  • Rituximab mendapat persetujuan dari Uni Eropa untuk NHL indolent pada Juni 1998, dan dalam terapi kombinasi dengan kemoterapi CHOP (kemoterapi konvensional untuk NHL) untuk pengobatan NHL agresif pada Maret 2002.
  • Rituximab adalah pengobatan antibodi monoklonal pertama untuk pengobatan kanker(NHL)

Bagaimana Rituximab bekerja ?

Rituximab adalah antibodi monoklonal untuk pengobatan kanker sistem limfatik yang disebut Non Hodgkin Limfoma (NHL). Tidak seperti bentuk umum dari pengobatan, Rituximab melacak dan memusnahkan sel kanker secara spesifik. Rituximab bekerja dengan mengikat suatu protein pada permukaan luar dari sel-B normal dan sel-B ganas (maligna). Lebih dari 85% NHL berasal dari sel-B. Selanjutnya, pertahanan tubuh alamiah akan direkrut untuk menyerang dan membasmi sel-B. Setelah sel ganas dihancurkan, kemudian akan diganti dengan sel-B normal, jadi sistem imun akan diregenerasi oleh sel- B normal.

Apakah antibodi monoklonal itu ?

Antibodi monoklonal adalah substansi yang diproduksi laboratorium yang akan mengenal dan mengikat suatu target spesifik (seperti misalnya protein) pada permukaan sel kanker. Setiap antibodi monoklonal hanya mengenal satu target protein, atau antigen dan dapat digunakan secara tunggal, atau kombinasi dengan kemoterapi atau sebagai pembawa dari substansi seperti toksin atau radiasi. Setelah terikat pada tempat target, antibodi monoklonal dapat membunuh sel kanker dan atau mengaktifan sistem imun tubuh untuk menyerang sasaran, dan juga dapat membuat sel kanker menjadi sensitif pada kemoterapi. Hal ini dapat terjadi jika antibodinya bersifat manusiawi (humanized) atau kimera (chimeric).

Ada beberapa tipe dari antibodi monoklonal, yaitu:

  • Antibodi murin berasal dari protein tikus dan karenanya dipandang sebagai benda asing oleh tubuh manusia dan dapat ditolak
  • Antibodi kimera dibuat dari antibodi manusia dan tikus, biasanya 70% komponen manusia dan 30% dari komponen tikus, dimana komponen tikus bertanggung jawab pada pengikatan ke antigen dan komponen manusia terlibat pada efek terapeutiknya.
  • Human (manusia) berarti antibodi mengandung komponen manusia sebanyak 90%

Kemanjuran

  • Kombinasi Rituximab plus kemoterapi CHOP (cyclophosphamide, hydroxidoxorubicin, vincristine, prednisone ) menunjukkan kemanjuran/efikasi yang baik pada 2 studi fase III pada limfoma indolen dan agresif, dengan total respon lebih tinggi dari 90% dan respon lengkap diatas 60%1,2.
  • Data3 pada studi lanjutan 6 tahun pada pasien dengan NHL indolen yang diobati dengan Rituximab plus CHOP menunjukkan 55% pasien masih mengalami remisi selama hampir empat tahun (46,8 bulan) dan sampai tujuh tahun (86,3 bulan). Semua pasien yang diobati memberikan respon (respon lengkap 58% dan respon sebagian 42%) dan didapat angka total respon sebesar 100% pada pasien yang mendapatkan terapi yang lengkap (respon lengkap
  • 63% dan respon sebagian 37%)
  • Hasil lanjutan pada studi pivotal4, GELA (Groupe d’Etude des Lymphomes d’Adulte), menunjukkan bahwa Rituximab plus CHOP (R-CHOP) secara bermakna lebih baik dari CHOP saja, dilihat dari angka respon lengkap, periode bebas penyakit dan serta angka harapan hidup keseluruhan, tanpa meningkatkan toksisitas secara signifikan. Hasilnya adalah sebagaiberikut
  • Angka harapan hidup pada tiga tahun : 62% (R-CHOP) vs 51% (CHOP)
  • Periode bebas penyakit pada tiga tahun : 53% (R-CHOP vs 35% (CHOP)
  • Respon lengkap: 76% (R-CHOP) vs 63% (CHOP).
  • Pasien yang mengalami respon lengkap memiliki peluang lebih baik untuk sembuh.
  • Hasil ini menunjukkan perbaikan angka harapan hidup yang pertama kali untuk semua regimen yang dibandingkan dengan CHOP selama lebih dari 20 tahun, menunjukkan Rituximab plus CHOP dapat menjadi ‘standar emas’ pengobatan yang baru untuk limfoma agresif
  • Sampai kini, lebih dari 300.000 pasien telah diobati dengan Rituximab diseluruh dunia

Cara Pemberian

Rituximab diberikan secara infus IV (intra vena atau melalui pembuluh darah), setiap tiga minggu pada pasien rawat jalan sampai dengan delapan siklus (8 kali infus) oleh dokter spesialis ahli kanker darah (hematologi)

Studi Rituximab

Rituximab diteliti secara pemberian tunggal dan / atau kombinasi dengan berbagai macam kemoterapi untuk penggunaan baru yang potensial pada pengobatan sejumlah keganasan darah dan kelainan sel-B yang bukan termasuk keganasan darah (penyakit autoimun), seperti :

- NHL indolen (low grade)
– NHL agresif (immediate / high grade)
– Kronik Limfositik Limfoma (CLL)
– Small Limfositik Limfoma (SLL)
– Waldenstrom’s Macroglobulinemia
– Multiple Myeloma (MM)
– Idiopathic Thrombocytopenia Purpura (ITP)
– Anemia Hemolitik
– Rheumatoid Arthritis

Kanker kelenjar getah bening (Non Hodgkin Lymphoma)

Didunia, kurang lebih 1,5 juta orang menderita NHL dan hampir 55% diantaranya menderita penyakit dalam bentuk agresif, yang berkembang secara cepat. NHL adalah kanker ketiga yang memiliki pertumbuhan tercepat setelah kanker paru dan melanoma dari kulit

Keamanan dan tolerabilitas

Pasien dapat mengalami gejala yang berhubungan dengan infus yang terdiri dari demam, kaku atau menggigil selama infus pertama dengan Rituximab. Gejala ini biasanya ringan sampai sedang.

Gejala

infus lainnya termasuk mual, urtikaria, kelelahan, sakit kepala, gatal, bronkospas, sesak napas, rinitis angioedema, muntah, hipotensi, merah dan nyeri pada lokasi penyakit. Gejala ini biasanya terjadi dalam waktu dua jam dari mulai infus dan insiden akan menurun pada pemberian infus berikutnya. Pengobatan dengan parasetamol dan difenhidramine harus diberikan sebelum pemberian Rituximab. Rituximab harus diberikan di sebuah rumah sakit atau di klinik dengan supervisi medis ahli kanker.

Pemasaran

Rituximab ditemukan oleh IDEC Pharmaceuticals Corporation dan dikembangkan bersama oleh IDEC, Genentech, Inc, Roche dan Zenyaku Kogyo, Co, Ltd dari Jepang. Pada Juli 1998, Roche mendapat hak eksklusif untuk memasarkan Rituximab diluar USA (dipasarkan sebagai Rituxan® di USA, Jepang dan Kanada)

Di Indonesia Rituximab dipasarkan dengan nama dagang MabThera.

Referensi

  1. Czuczman MS, Grillo-Lopez AJ, White CA dkk. Treatment of patients with low-grade B-cell lymphoma with the combination of chimeric anti-CD20 monoclonal antibody and CHOP chemotherapy. J Clin Oncol 1999; 17:268-276
  2. Vose JM, Link BK, Grossbard ML dkk. Phase II study of rituximab in combination with CHOP chemotherapy in patients with previously untreated, aggressive non-Hodgkin’s Lymphoma. J Clin Oncol 2001:19:389-397
  3. Czuczman dkk. Progression Free Survival after Six Years (Median) Follow-Up of the First Clinical Trial of Rituximab / CHOP Chemoimmunotherapy. Abstract No. 2519, 43rd Annual Meeting of the American Society of Hematology , 2001, Orlando, Florida, US
  4. Coiffier dkk. CHOP chemotherapy plus rituximab compared with CHOP alone in elderly patients with diffuse large-B-cell lymphoma. N Eng J Med 2002;346:235-241
  5. Data on file, F. Hoffmann-La Roche
  6. Idem
Disadur dari:
roche.co.id/fmfiles/re7175008/Indonesian/media/lembar.informasi/Onkologi/Lymphoma/Lembar.Infor​masi.MabThera.pdf
Thanks to Christine Hawono
This entry was posted in Info. Bookmark the permalink.